Usai Pensiun, Joshua Tertarik Jajal Dunia Politik

Usai Pensiun, Joshua Tertarik Jajal Dunia Politik

Berita Tinju: Juara dunia tinju kelas berat IBF, IBO, dan WBA Anthony Joshua (20-0, 20 KO) akan mempertimbangkan ide untuk mengikuti jejak Manny Pacquiao dan Vitali Klitschko, yaitu menggeluti dunia politik setelah pensiun sebagai petinju profesional nanti.

Klitschko, mantan juara kelas berat WBC, saat ini menjabat sebagai Wali Kota Kiev (Ibu Kota Ukraina) sekaligus Kepala Pemerintahan Kiev City. Sementara Pacquiao, juara dunia delapan kelas berbeda dan masih aktif sebagai petinju, kini adalah senator di Filipina dan terpilih sejak 2016.

Beberapa petinju juga berencana memasuki bidang politik di masa mendatang. Joshua, seperti halnya

Pacquiao memutuskan keluar dari sekolah demi menekuni karier sebagai petinju. Dia berhasil meraih prestasi puncak dalam tinju amatir dengan meraih medali emas cabang tinju Olimpiade 2012 di London.

Sebagai petinju profesional, Joshua kini menjadi salah satu atlet paling populer dan memiliki bayaran tertinggi di negaranya. Aksinya berhasil menyedot 90.000 penonton saat bertemu dengan Wladimir Klitschko, April lalu.

Sementara ketika menghadapi Carlos Takam pada Oktober lalu, pertarungannya disaksikan 78.000 penonton di Stadion Principally, Cardiff, Wales.

Pada 31 Maret mendatang dia akan mencoba menambah perbendaharaan sabuk juaranya saat bertemu juara kelas berat WBO, Joseph Parker, juga di tempat dia menaklukkan Takam. Jika mampu melewati petinju Selandia Baru itu, Joshua kemungkinan akan melakoni partai yang paling ditunggu yakni laga unifikasi melawan penyandang sabuk WBC, Deontay Wilder.

Dan jika dia telah pensiun dari dunia tinju nanti, Joshua mengaku tertarik memasuki dunia politik. “Melalui tinju, saya memiliki ketertarikan dan saya telah belajar soal masalah-masalah dunia, hal-hal yang menjadi masalah saya, apa yang menjadi masalah minoritas karena dari sanalah saya berasal,” kata Joshua kepada Channel 4.

“Saya memang memiliki hak suara namun ingat saya mengorbankan pendidikan demi menekuni karier saya dalam dunia olahraga. Jadi apa yang saya katakan tidak selalu menjadi kenyataan dan titik pandang sata tak selalu berasal dari sudut pandang pendidikan namun dari kenyataan. Sudut pandang yang realistis,” papar petinju berusia 28 tahun ini.

“Karena saya tak sekolah saya tak mendapat pendidikan. Saya tak pernah berada di ruang kelas dan saya berada di jalanan bersama orang-orang sejak saya masih kecil,” katanya.

“Jadi saya memiliki ketertarikan (masuk dunia politik) namun saya tidak berkata saya bisa menjalankan negara ini namun menurut saya bisa bersuara,” paparnya.

“Saya memberikan masukan dan saya pikir kaum muda di negeri ini perlu lebih banyak diberi kesempatan bersuara,” ungkapnya.

“Di era sekarang, saya pikir sebuah wilayah bergerak sedemikian cepat sehingga beberapa orang yang lebih tua dan berkuasa membutuhkan pemikiran kreatif yang lebih segar untuk memengaruhi apa yang sedang terjadi di dunia dan dunia – saya percaya itu. “