Terence Crawford Dan Julius Indongo Kejar Sejarah Sebagai Juara Sejati Kelas Menengah Yunior

Terence Crawford Dan Julius Indongo Kejar Sejarah Sebagai Juara Sejati Kelas Menengah Yunior

Berita Tinju: Di tengah gencarnya pemberitaan jelang duel Floyd Mayweather-Conor McGregor, duel perebutan sabuk juara antara dua kampiun tak terkalahkan akan digelar pada Sabtu (19/8) malam atau Minggu pagi WIB di Lincoln, Nebraska (AS). Yang dipertaruhkan: gelar juara sejati welter yunior.

Petarungan antara pemegang sabuk WBO/WBC Terence Crawford (31-0, 22 KO), putra kebanggaan Omaha dan salah satu petinju ‘pound-for-pound’ terbaik dunia, dan Julius Indongo (22-0, 11 KO), asal Namibia, yang menguasai sabuk IBF/WBA, sepatutnya mendapatkan pemberitaan lebih besar daripada partai Mayweather-McGregor.

Pasalnya, duel perebutan juara sejati ini merupakan hal yang terbilang langka di era perebutan empat gelar. Pemenang duel ini akan menjadi orang ketiga di era tersebut yang ditasbihkan sebagai juara sejati.

Bernard Hopkins menjadi juara sejati kelas menengah ketika mengalahkan Oscar De La Hoya pada 2004. Sepuluh bulan kemudian, Hopkins kehilangan semua gelarnya setelah kalah angka dari Jermain Taylor, yang menjadi orang terakhir yang pernah memegang empat gelar besar.

Indongo praktis tak dikenal sebelum dia secara mengejutkan menekuk seniman KO asal Rusia yang sebelumnya tak terkalahkan, Eduard Troyanovsky, di Rusia dengan kemenangan KO di menit pertama pada Desember lalu untuk merebut sabuk IBF 140 pound. Itu pertama kalinya Indongo bertarung di luar Namibia.

Indongo kemudian bertarung di Glasgow pada April lalu untuk mempertahankan sabuknya menghadapi juara WBA Ricky Burns dan menang mutlak mudah. Inilah yang membuka kesempatannya untuk menyatukan gelar dengan Crawford, yang sebelumnya menginginkan duel melawan Troyanofsky and Burns, sebelum kedua petinju itu lebih memilih Indongo.

“Saya sudah menggeluti tinju untuk waktu yang lama dan tak banyak orang yang mengenal saya,” kata Indongo, 34 tahun, yang dipromotori Matchroom Boxing. “Saya percaya inilah waktunya bagi saya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa seorang petinju dari Afrika, dari Namibia, bisa mengalahkan lawan di rumahnya sendiri. Itulah cara terbaik untuk melakukannya.”

Pertarungan yang tiketnya sudah ludes terjual di Pinnacle Ban Arena ini punya arti penting bagi Crawford, bintang Top Rank, dalam upayanya menjadi raja kelas 140 pound dan puncak ‘pound-for’pound’. “Hanya dua kali empat gelar dipertaruhkan dalam sekali pertarungan,” katanya. “Saya siap untuk momen ini.”

Crawford tidak tahu banyak tentang Indongo, bahkan sebelum pertarungannya melawan Troyanovsky. Namun dia menghormati Indongo yang menempuh perjalanan jauh ke kampung halamannya untuk menghadapi siapapun yang dia akan hadapi di atas ring.

“Itu berbicara banyak tentang karakter, kepercayaan diri, dan kemampuannya di dalam ring,” kata Crawford. “Dirinya menjadi pemegang dua sabuk juara dunia dalam waktu yang pendek menunjukkan dia sangat percaya diri. Tapi di saat yang sama, dia sedikit lebih tua, jadi dia hampir di penghujung kariernya. Dia tak punya banyak pilihan. Dia tak bisa menunggu lagi.”

Crawford, 29 tahun, yang kini menduduki peringkat ke-4 pound-for-pound oleh Majalah Ring, percaya bahwa memenangi pertarungan perebutan juara sejati ini akan mendongraknya ke posisi pertama atau kedua. “Di mata saya, saya merasa sudah menduduki posisi dua besar,” ujarnya.