Tentang Tyson Fury, Bag.2: Mencintai Tinju Sejak Kanak-Kanak

Tentang Tyson Fury, Bag.2: Mencintai Tinju Sejak Kanak-Kanak

Berita Tinju: Tyson Fury bicara panjang lebar soal banyak hal. Mulai dari kokain, perlakuan rasis, depresi sampai tuduhan doping. Kali ini, kepada Stayton Bonner dari majalah Rolling Stone, secara eksklusif, juara dunia tinju kelas berat ini menjawab beberapa pertanyaan secara langsung.

Begini, saya melakukan banyak hal dalam hidup saya. Saya memakai banyak kokain. Banyak sekali. Mengapa tidak saya memakai kokain? Ini hidup saya, bukan? Saya bisa lakukan apa yang saya inginkan. Ya, saya memang memakai kokain. Banyak orang juga memakai kokain. Memang apa hubungannya? (Kokain) bukanlah obat peningkat performa.

Apakah saya juga tidak diizinkan punya kehidupan sendiri? Apakah mereka ingin juga merebut kehidupan pribadi saya? Saya sudah tidak berlatih di gym selama berbulan-bulan. Saya tidak lagi berlatih. Saya mengalami depresi. Saya tidak ingin hidup lagi, jika Anda paham maksud saya. Saya sudah muak dengan semua itu. Mereka memaksa saya sampai saya nyaris hancur. Jangankan kokain. Saya hanya tidak peduli. Saya tidak ingin hidup lagi. Jadi kokain hanyalah hal kecil dibandingkan dengan (niat) tidak ingin hidup lagi.

Ya, pastinya. Saya jauh lebih bahagia saat saya bukan juara dunia karena orang-orang tidak begitu memedulikan saya. Orang-orang tak begitu ingin saya melakukan semua hal buruk ini. Saya dipaksa menjadi hancur. Saya tidak tahan lagi.

Saya berada di rumah sakit sekarang ini. Saya bertemu banyak psikiater. Semua hal. Mereka mengatakan saya mengidap versi lain dari bipolar. Saya seorang maniak depresif. Semuanya akibat yang mereka lakukan terhadap saya. Semua kejadian ini karena tinju, karena merebut gelar, karena meremehkan saya. Saya mengalahkan petinju terbaik, tapi saya masih dianggap sebagai kotoran.

Saya mencintai olahraga tinju saat saya masih anak-anak. Tinju adalah hidup saya. Semua hal tentang tinju adalah hidup saya. Anda akhirnya sampai di tempat yang seharusnya Anda tempati dan kemudian hancur berantakan. Sekarang saya benci tinju. Saya bahkan tidak mau menonton partai perebutan gelar juara dunia di seberang jalan. Itulah yang (tinju) lakukan terhadap saya.

Saya bahkan tidak mau bangun. Setiap hari saya berharap saya mati. Itu hal buruk untuk dikatakan manakala saya memiliki tiga anak dan istri yang cantik, bukan? Tapi saya tidak ingin hidup lagi. Jika saya bisa mengakhiri hidup saya – dan saya bukan seorang yang beragama – maka saya akan melakukannya dalam sekejap. Saya hanya berharap seseorang membunuh saya sebelum saya membunuh diri saya sendiri. Saya akan berada di neraka selamanya.

Saya bersimpati mendengarnya. Di manakah Anda saat ini?

Saya berada di tempat yang sangat buruk sekarang ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan hidup tahun ini.

Tapi Anda berusaha mencari pertolongan?

Saya memang mencari pertolongan, tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa untuk saya. Apa yang saya derita tak bisa disembuhkan. Saya tidak ingin hidup. Semua uang di dunia ini, ketenaran dan kejayaan, tidak berarti apa-apa jika Anda tidak bahagia. Dan saya tidak bahagia. Saya jauh dari kata bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *