Petinju Legendaris Aaron “Si Elang” Pryor Tutup Usia

Petinju Legendaris Aaron “Si Elang” Pryor Tutup Usia

Berita Tinju: Aaron Pryor yang ditasbihkan Associated Press sebagai “petinju welter yunior terbaik abad 20” pada 1999, wafat pada usia 60 tahun, pada Minggu (9/10). “The Hawk” (Si Elang), begitu dia dijuluki, sudah lama berjuang menghadapi masalah pada jantungnya

“Dengan sangat sedih, kami mengumumkan bahwa Aaron tercinta kami meninggal dunia di rumah dikelilingi keluarganya pada pukul 05.57 pagi,” ujar istri almarhum, Frankie Pryor dalam sebuah pernyataan. “Dia dikenal di seluruh dunia sebagai ‘The Hawk’, tapi bagi keluarga kami, dia adalah suami, ayah, kakek, saudara, paman, dan teman yang dicintai.”

Pryor yang akan menginjak usia 61 tahun pada 20 Oktober mendatang, paling dikenal berkat dua kemenangan KO atas petinju legendaris asal Nikaragua, Alexis Arguello. Tapi, lebih dari itu, Pryor punya karier yang cemerlang selama 14 tahunnya sebagai petinju pro (1976-1990).

Petinju dengan pukulan keras serta cepat dan punya ketrampilan bertinju yang apik, Pryor memiliki karier amatir yang luar biasa (204 kali menang dan 16 kalah). Dipuncaki dengan kemenangan atas Thomas Hearns di partai final Golden Gloves Nasional pada 1976.

Pryor memutuskan beralih pro setelah gagal masuk skuad tinju AS untuk Olimpiade 1976. Dalam seleksi Olimpiade, Pryor kalah dari Howard Davis Jr. yang kemudian meraih medali emas.

Dilahirkan di Cincinnati pada 1955, Pryor dimanajeri oleh seorang pebisnis di kota itu, Buddy LaRosa, yang kaya sebagai pemilik restoran pizza. Lebih banyak bertarung di Cincinnati dan sekitarnya, Pryor mengukir rekor 24-0 sampai pertengahan 1980-an.

Pryor kemudian mendapatkan kesempatan memperebutkan gelar versus juara dunia welter yunior WBA dan calon penghuni Hall of Fame, Antonio Cervantes di Riverfront Coliseum, Cincinnati. Sempat dipukul jatuh di ronde pertama, Pryor bangkit dan meng-KO lawannya di ronde keempat.

Dalam usaha ketujuhnya mempertahankan gelar, pada 12 Noveber 1982, Pryor bertemu Arguello yang berambisi merebut gelar juara dunia keempat. Digelar di Orange Bowl, Miami, duel tersebut dianggap sebagai salah satu yang terhebat dalam sejarah tinju.

Pada akhirnya Pryor menang KO atas Arguello pada ronde ke-14. Toh ada kontroversi seputar knockout tersebut. Antara ronde ke-13 dan 14, pelatih Pryor, Panama Lewis menyuruh cutman memberinya botol air – “Minuman racikan saya,” ujarnya. Entah apa isinya, tenaga Pryor seperti pulih lagi.

Keduanya bertemu lagi pada 9 September 1983 di Caesars Palace, Las Vegas. Dalam duel yang kembali berlangsung sengit, Pryor menang lebih mudah, kali ini meng-KO Arguello pada ronde ke-10. Setelah pertarungan tersebut, Pryor menyatakan pensiun, tapi itu tak bertahan lama.

Dia kembali naik ring sembilan bulan kemudian dan menerima gelar juara welter yunior IBF yang baru dibuat. Titel itu dipertahankan Pryor melawan Nick Furlano, lalu Gary Hinton yang menjadi partai perebutan gelar juara dunia terakhirnya pada Maret 1985.

Sayang, Pryor kecanduan narkoba dan gelar IBF miliknya dicabut karena lama tidak naik ring. Dia sempat bertarung empat kali, termasuk kekalahan satu-satunya menghadapi Bobby Joe Young pada Agustus 1987 di Fort Lauderdale, Florida.

Kecanduan narkoba membuatnya menghadapi banyak masalah hukum, juga cedera mata seperti katarak dan retina yang terpisah. Dia memenangi tiga partai terakhirnya menghadapi petinju kacangan sebelum akhirnya gantung sarung tinju pada 1990.

Pryor (39-1, 35 KO) terpilih masuk International Boxing Hall of Fame pada 1996. Usai pensiun, dia melepas ketergantungannya kepada narkoba dan meluangkan banyak waktu berceramah soal bahaya narkoba kepada anak-anak. Dia punya dua putra dan seorang putri yang memberinya tiga cucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *