Muhammad Ali Dan Zou Shiming Populerkan Tinju Di Tiongkok

Muhammad Ali Dan Zou Shiming Populerkan Tinju Di Tiongkok

Berita Tinju: Sekitar 100 juta orang di Tiongkok memelototi layar kaca mereka melalui layanan pay-per-view ketika Zou Shiming menggondol gelar juara dunia pertamanya di Thomas & Mack Center, Las Vegas, Sabtu pekan lalu. Demikian yang dikatakan promotor Top Rank, Bob Arum.

Dalam partai tambahan pertama jelang duel utama antara Manny Pacquiao dan Jessie Vargas, petinju 35 tahun itu akhirnya melengkapi impiannya setelah jadi juara Olimpiade. Dia menang angka mutlak atas rivalnya dari Thailand Prasitsak Phaprom untuk merebut gelar kelas terbang WBO yang kosong.

Shiming yang tiga kali beruntun meraih medali Olimpiade dari 2004 sampai 2012, bukan hanya salah satu olahragawan paling populer di Tiongkok, melainkan juga salah satu selebriti terbesar di negara yang memiliki populasi hampir mencapai 1,4 miliar itu.

Dia membintangi reality show populer di Tiongkok berjudul “Kemana Kita Pergi, Ayah?” yang menyedot 75 juta penonton setiap episodenya di Hunan Television. Selain itu, Shiming juga menikahi Yingying Ran, seorang komentator televisi yang cukup kondang di Negeri Panda.

“Anda tak bisa bayangkan betapa populernya dia di Tiongkok. “Rating reality show miliknya mengerdilkan semua acara reality show keluarga Kardashian. Coba saja bayangkan itu,” kata Arum. “Dia salah satu petinju amatir terhebat dalam sejarah dan kini merintis karier profesional yang sama hebatnya.”

Lebih dari itu, salah satu penggemar terberatnya adalah Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang dilaporkan menonton pertarungan bersejarahnya itu dari layar TV. Bagi negara seperti Tiongkok, jika seorang petinju mendapatkan sorotan begitu besar dari presidennya, itu hal yang sangat besar.

Padahal, pendiri RRT, Mao Zedong melarang olahraga tinju sebelum even PON pertama negeri itu pada 1959 setelah seorang petinju tewas dalam pertarungan di Tianjin beberapa tahun sebelumnya. Tinju baru perlahan diterima kembali saat Muhammad Ali mengunjungi Tiongkok pada 1979, tiga tahun setelah Mao wafat.

Kala itu Ali menjadi atlet asing pertama yang diundang oleh Komite Olimpiade Tiongkok dan Federasi Olahraga Tiongkok. Dalam lawatannya itu, Ali bertemu dengan pemimpin negeri itu, Deng Xiaoping, dan mengungkapkan ketertarikan untuk mengembangkan olahraga tinju di Tiongkok.

Dialog itu berlanjut ketika Ali kembali ke Tiongkok pada 1985 dan mengadakan sesi dan klinik pelatihan tinju. Larangan tinju di negeri itu resmi dihapuskan pada 1986 dan para petinju Tiongkok pun mulai berkompetisi di Olimpiade Barcelona pada 1992.

Tiongkok akhirnya memenangi medali tinju pertamanya dalam cabang tinju pada 2004 saat Shiming merebut perunggu di Athena. Shiming terus berkompetisi di level amatir dan menggondol emas di Olimiade Beijing pada 2008 dan Olimpiade London pada 2012.

“Ketika Zou sukses, itu pertama kalinya banyak orang di Tiongkok yang menonton tinju, berkat tiga medali Olimpiadenya,” kata Li Sheng, Presiden SECA, perusahaan pemasaran olahraga top di Tiongkok. “Dia bertanggung jawab memperkenalkan kembali olahraga tinju di Tiongkok.”

Saat Shiming beralih ke level pro, kata Sheng lagi, tinju profesional Tiongkok pun ikut-ikutan meroket. “Pertarungan-pertarungannya begitu dinantikan,” katanya. “Ini pertama kalinya ada begitu banyak media dan fans Tiongkok yang bepergian ke Las Vegas untuk menyaksikan petinju Tiongkok bertarung dalam even besar.”

Arum dikontak tiga tahun lalu untuk mempromosikan Shiming dan langsung mencaplok kesempatan itu setelah menyadari betapa populer Shiming dan olahraga tinju di Tiongkok. Dia kemudian menyandingkannya dengan Freddie Roach untuk mengubahnya dari petinju amatir menjadi petinju pro.

Menurut pelatih Pacquiao itu, Shiming punya pertahanan yang bagus, namun kurang agresif dalam menyerang. “Ini karena dia diajarkan untuk melindungi dirinya dalam program amatir,” kata Roach. “Saya ingat mengajarkannya cara memukul speed bagkarena mereka tak punya speed bag di Tiongkok.”

Di bawah asuhan Roach, ketrampilan bertinju Shiming meningkat, juga kepercayaan dirinya. Itu yang diperlihatkannya kala mendominasi Phaprom dan menghibur kontingen besar penggemarnya yang meneriakkan “Zou Shiming, jai yo!”yang artinya “Zou Shiming, berjuanglah!”

Kedua kakinya melakukan gerakan shuffle ala Ali, menaruh kedua tangannya di belakang dan menyuruh Phaprom untuk meninjunya, sebelum balik memukul lawannya itu. “Memang sulit mengubah gaya saya di amatir, namun Freddie mampu mengubah saya,” kata Shiming yang memang mengidolakan Ali.

Arum sendiri ingin memunculkan generasi petinju bintang lainnya di Tiongkok yang ingin mengikuti jejak Shiming. Tp Rank dan SECA bekerja sama menggelar “League of Fists”, sebuah turnamen tinju pro yang bertujuan mempromosikan olahraga tinju di Tiongkok.

Selanjutnya, Arum juga menimbang untuk menggelar upaya pertama Shiming dalam mempertahankan gelar juara dunianya di Tiongkok, sehingga semakin membantu promosi tinju di sana.

“Masa depan tinju di Tiongkok amat besar,” kata Arum. “Mereka punya populasi, uang dan kini keberminatan. Kami pernah menggelar pertarungan di Beijing, Shanghai dan Makau, dan penontonnya sangat banyak. Tinju sudah menjadi sangat populer di TV dan internet. Masa depan tinju di Tiongkok sangat cerah, dan itu dimulai dengan Zou Shiming.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *