Mengenang Pertarungan Sengit Muhammad Ali Dan Joe Frazier

Mengenang Pertarungan Sengit Muhammad Ali Dan Joe Frazier

Ragam Tinju: Tepat 41 tahun lalu pada hari ini (1/10) publik Filipina di Araneta Coliseum, Quezon City, Metropolitan Manila, menyaksikan langsung pertarungan “mati-matian” yang juga disebut-sebut sebagai “Duel Terbaik Abad 20” antara Muhammad Ali dan Joe Frazier.

“Thrilla in Manila”, begitu pertarungan legendaris ini dikenal. Kalimat yang sejatinya diambil dari ungkapan Ali dalam hampir setiap wawancara jelang pertarungan itu. “It’s gonna be a thrilla, and a chilla, and a killa, when I get the Gorilla in Manila,” begitu kata Ali, Si Mulut Besar dari Kentucky.

Dalam wawancara, Ali selalu membawa sebuah boneka gorilla kecil yang ditinju-tinjunya seakan itu Frazier. “Gorilla yang jelek dan bodoh”, “Paman Tom”, “Jawaranya Kulit Putih”, begitu Ali selalu memanggil Frazier. Tak urung, Frazier jadi begitu membenci Ali yang dulu dianggapnya teman.

Pertarungan yang dijadwalkan 15 ronde itu pun berjalan “panas” dalam artian sebenarnya. Duel dimulai pada pukul 10 pagi untuk mengakomodir penonton TV internasional. Tapi suhu stadion beratapkan seng itu disebut mencapai 49 °C. “Bak panci mendidih,” kata dokter Ali, Ferdie Pacheco.

Faktor suhu itu pula yang kemudian “ikut” menentukan hasil pertarungan. Faktor lain adalah penetapan ring yang lebih luas dan sarung tinju yang lebih ringan. Dengan memanfaatkan “hak” mereka sebagai juara bertahan, pihak Ali menegosiasikan dua hal tersebut.

Dengan ring yang lebih luas, Ali dapat “menari” lebih leluasa. Sedangkan sarung tinju yang lebih kecil dan kurang padat membuat pukulan jab dan straight Ali menjadi lebih “menyengat”. Strateginya adalah memanfaatkan kebiasaan Frazier yang selalu telat panas.

Strategi itu berhasil di awal pertarungan. Ali membombardir lawannya dengan jab dan straight di dua ronde awal. Tapi di ronde ketiga, Frazier mulai merangsek dan menghajar badan Ali yang memakai taktik “rope-a-dope” (menyandar pada tali ring dan membiarkan lawan memukul).

Frazier semakin mendapatkan momentum dan di ronde kelima sukses mendaratkan secara solid pukulan andalannya, hook kiri, ke kepala Ali. Di ronde keenam, beberapa kali Ali menerima hook kiri Frazier yang sangat keras. Tapi ajaibnya dia masih bertahan tidak sampai jatuh.

Ali terus memakai taktik “rope-a-dope” di ronde ketujuh meski pelatih Angelo Dundee, terus menyuruhnya untuk mengabaikan strategi itu. Di ronde kedelapan, Ali seperti mendapatkan tenaga baru dan menghajar lawan sekuat tenaga. Kelelahan, Ali balik dibombardir Frazier.

Adu pukulan juga berlanjut di ronde kesembilan. Saat ronde itu berakhir, Ali yang terlihat amat kelelahan berkata kepada Dundee bahwa dirinya “nyaris sekarat”. Sementara kondisi Frazier tidak kalah buruknya. Mukanya babak belur dan bengkak akibat ratusan pukulan yang didaratkan Ali.

Bagi Frazier yang nyaris buta pada mata kirinya akibat kecelakaan saat latihan pada 1965, kondisi ini jelas tidak menguntungkan. Kepada sang pelatih, Eddie Futch, dia mengaku tak dapat melihat datangnya pukulan kanan Ali.

Dalam situasi ini, Futch malah memberi nasihat yang buruk. Dia menyuruh Frazier untuk merangsek langsung ke depan dan tidak lagi mengayunkan kepalanya ke kiri dan kanan. Ini dimanfaatkan betul oleh Ali di ronde ke-12 yang leluasa mendaratkan lebih banyak pukulan pada wajah Frazier.

Yang lebih parah lagi, jajaran cornerman Frazier gagal mempertahankan suhu kantong es di tengah pertarungan akibat panas menyengat di dalam koliseum. Akibatnya, wajah bengkak Frazier tidak bisa mengempis karena tidak terkompres secara sempurna.

Di ronde ke-13, Frazier nyaris tidak bisa melihat dan jadi bulan-bulanan Ali. Di ronde ke-14, satu pukulan keras Ali membuat pelindung gigi Frazier terpental keluar. Frazier melangkah mundur dan Ali mengejarnya dengan puluhan pukulan keras – “Setiap pukulan sekeras pukulan Ali yang meng-KO Foreman,” kata jurnalis Frank McGhee.

Saat jeda sebelum ronde ke-14, meski Frazier memprotes, Futch putuskan untuk menghentikan pertarungan. Dia memberi sinyal kepada wasit Carlos Padilla. Ali dinyatakan sebagai pemenang dalam duel sangat melelahkan selama 13 ronde itu.

Yang tidak diketahui pihak Frazier waktu itu adalah bahwa sebenarnya Ali juga sudah menyerah sebelum dimulainya ronde ke-14. Dia meminta agar tali sarung tinjunya dipotong, namun Dundee mengabaikannya. “Saya tak sanggup lagi bertarung. Rasanya saya sudah hampir mati,” ujar Ali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *