Mengenang Kemenangan Bersejarah Evander Holyfield Atas James “Buster” Douglas

Mengenang Kemenangan Bersejarah Evander Holyfield Atas James “Buster” Douglas

Ragam Basket: Hari ini, tanggal 25 Oktober, tepat 25 tahun yang lalu, Evander Holyfield mewujudkan Impiannya menjadi juara dunia kelas berat sejati. Kala itu, di ronde ketiga, dia meng-KO juara bertahan, James “Buster” Douglas, yang 10 bulan sebelumnya menumbangkan Mike Tyson.

Sejatinya, dia bukan petinju kelas berat. Holyfield mengawali karier profesionalnya di kelas berat ringan, dua tingkat di bawah kelas berat. Banyak pakar mencibirnya karena tak memiliki postur seperti halnya petinju kelas berat. Bahkan saat sukses menjadi juara dunia kelas berat sejati pun dia tak mendapatkan respek.

Dilahirkan pada 19 Oktober 1962, Holyfield belajar bertinju pada usia 7 tahun. Dia membela AS di Olimpiade 1984 dan meraih perunggu di kelas berat ringan setelah kalah kontroversial dari petinju Selandia Baru, Kevin Barry. Catatannya sebagai petinju amatir: 160 menang (76 KO) dan 14 kalah.

Di usia 21 tahun, Holyfield memulai debut pronya pada November 1984 di kelas berat ringan. Delapan bulan kemudian, setelah empat lawan berhasil dikalahkan, dia memutuskan naik ke kelas penjelajah. Tujuh lawan berhasil ditundukkannya sebelum datang kesempatan menghadapi juara WBA, Dwight Muhammad Qawi.

Pertarungan itu dimenangkan Holyfield dengan susah-payah dalam 15 ronde melalui kemenangan angka. Sampai-sampai dia kehilangan berat badan 7 kg karena menyusutnya cairan tubuh. “Saya sempat berpikir untuk pensiun,” ujar Holyfield. “Tapi setelah pikir-pikir, saya lebih baik mati daripada berhenti.”

Setelah merengkuh gelar WBA pada 1986, Holyfield kemudian menggenapinya dengan sabuk WBC (menang TKO ronde 3 atas Ricky Parkey) pada 1987 dan IBF (menang TKO ronde 8 atas Carlos de Leon) pada 1988. Dia menjadi juara kelas penjelajah sejati.

Setelah laga melawan De Leon, Holyfield memutuskan naik ke kelas berat dengan tujuan merebut gelar yang disandang Tyson. Berlahan, enam lawan dibabatnya dalam kurun dua tahun, beberapa pernah dikalahkan Tyson juga. Pada 1990, dia menempati peringkat penantang pertama untuk WBA, WBC dan IBF.

Dijadwalkan menghadapi Tyson pada 18 Juni 1990, Douglas membuat kejutan saat menang KO atas Tyson pada Februari 1990. Jadilah Holyfield berhadapan dengan Douglas. Duelnya diadakan di Mirage Hotel & Casino, Las Vegas, yang memenangi purse bid sebesar $32,1 juta, terbesar sampai saat ini.

Tapi Douglas memulai latihan dengan berat badan sangat berlebih. Steve Wynn, pemilik Mirage, pun menawarkan fasilitas sauna di hotelnya untuk membantu mengikis berat badan Douglas. Namun betapa murkanya Wynn setelah dia tahu Douglas malah memesan makanan sebobot 98 kg selagi berada di sauna.

Saat acara timbang badan, berat Douglas 111 kg, lebih berat 7 kg dibandingkan saat dia mengalahkan Tyson. Sementara berat Holyfield 94 kg dengan fisik yang prima. Awalnya, pasar taruhan mengunggulkan sang penantang dengan odds 12-5, lalu turun 7-5. Tapi setelah timbang badan, odds naik lagi menjadi 9-5.

Saat pertarungan, jelaslah Holyfield unggul segalanya atas Douglas yang terlihat tidak siap secara fisik. Dua ronde pertama dikuasai Holyfield yang mendaratkan 66 dari 100 pukulan yang dilontarkannya, sementara Douglas hanya 20 dari 69 pukulan.

Di ronde ketiga, Holyfield melakukan gerakan pancingan dengan tangan kiri, yang disambut Douglas dengan uppercutkanan. Holyfield menarik kakinya ke belakang untuk menghindari pukulan itu dan balas melontarkan pukulan silang kanan yang mendarat telak pada dagu Douglas.

Sang juara pun tersungkur ke arah kiri. Dia sama sekali tidak memperlihatkan niat untuk berdiri. Dia menyapukan sarung tinjunya pada muka, memeriksa ada darah atau tidak, kemudian menelantangkan badannya di kanvas ring. Menunggu wasit Mills Laine menghitung habis sampai sepuluh.

“Ketika orang-orang berkata setelah pertarungan bahwa Douglas sebenarnya bisa berdiri, bahwa dia menelantangkan badannya, saya tak khawatir,” kata Holyfield yang dibayar $8 juta, sementara Douglas $24 juta. “Saya tak pernah menyuruhnya untuk terlentang. Dia tak pernah bangkit, jadi saya gembira.”

Toh meski sebagai juara pun, masih banyak pakar yang meragukannya sebagai juara sejati karena yang dia kalahkan bukan Tyson. Mereka semakin yakin saat Holyfield kalah dari Riddick Bowe pada 1992. Namun, setelah dia membalaskan kekalahannya dari Bowe pada 1993 dan kemudian menundukkan Tyson pada 1996, “barulah saya mendapat respek yang sepatutnya saya terima,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *