Kalahkan Argumedo, Kyoguchi Petinju Jepang Tercepat Jadi Juara Dunia

Kalahkan Argumedo, Kyoguchi Petinju Jepang Tercepat Jadi Juara Dunia

Berita Tinju: Hiroto Kyoguchi meneruskan start mengesankan pada kariernya setelah menang angka mutlak atas juara bertahan terbang mini IBF Jose Argumedo pada Minggu (23/7). Petinju Jepang berusia 23 tahun merengkuh gelar juara dunia pertamanya dalam tempo satu tahun dan tiga bulan sejak beralih pro.

Ini menjadi rekor tercepat bagi seorang petinju “Negeri Sakura” untuk menjadi juara dunia. Berkat kemenangan ini, Kyoguchi masih belum pernah kalah dalam delapan partai beruntun dengan enam kemenangan KO. Sementara bagi Argumedo, ini kekalahan keempatnya dalam 25 pertarungan.

“Menjadi yang tercepat meraih gelar atau apalah, itu tidak berarti banyak untuk saya,” kata Kyoguchi. “Saya hanya senang menjadi seorang juara. Saya akan terus berlatih keras untuk menjadi jauh lebih kuat. Saya jauh dari kata puas.”

Tempo pertarungan berjalan ‘hingar-bingar’ sejak awal, dengan kedua petinju sama-sama melontarkan pukulan tidak terkendali di dua ronde awal. Di ronde ketiga, duel mulai mendapatkan ritme dengan kedua petinju tak lagi sembarang memukul akibat kelelahan.

Wasit harus terus-terusan memisahkan kedua petinju yang sering kali merangkul. Pertarungan pun jadi lebih mirip gulat. Baru pada ronde kesembilan, pertarungan jadi menarik setelah Kyoguchi mendaratkan pukulan kiri keras yang menjatuhkan Argumedo. Namun petinju Meksiko mampu bangkit dalam hitungan wasit.

Mendapatkan angin, Kyoguchi berusaha menuntaskan pertarungan di 40 detik terakhir ronde tersebut. Argumedo pun bertahan susah-payah sampai akhirnya bel berbunyi. Di tiga ronde terakhir, sang juara bertahan mengeluarkan seluruh kemampuan untuk membalikkan keadaan.

Pada akhirnya, pertarungan ditentukan oleh ketiga hakim yang memberikan skor 116-111 (dua kali) dan 115-112 untuk sang penantang.

Dalam duel sebelumnya malam itu di Ota Gymnasium, Ryoichi Taguchi berhasil mempertahankan sabuk kelas terbang ringan WBA miliknya untuk keenam kali, menekuk penantang asal Kolombia, Robert Barrera, dengan kemenangan TKO di ronde kesembilan.

Unggul jangkauan dan tinggi badan, Taguchi yang berusia 30 tahun memperbaiki rekor bertarungnya menjadi 26 kemenangan 912 KO, dua seri dan dua kalah. Bagi Barrera yang lebih muda enam tahun menderita kekalahan kedua dalam 20 partai profesionalnya.

Pertarungan berjalan seimbang di tiga ronde pertama, dengan Barrera menyerang balik sambil bersandar di tali ring. Alhasil sang penantang unggul di dua dari tiga ronde awal. Tapi Taguchi gantian unggul di ronde keempat yang membombardir Barrera jelang ronde berakhir.

Memasuki ronde ketujuh, Barrera tak punya jawaban atas serangan bertubi-tubi yang dilakukan Taguchi. Dua ronde kemudian, sang wasit menyetop duel yang tak lagi seimbang dan memberikan kemenangan TKO kepada Taguchi.

Sementara itu pada Jumat (21/7) lalu, juara bertahan bulu yunior WBA wanita, Amanda Serrano, juga sukses mempertahankan gelar setelah menang TKO di ronde ketiga atas penantang Edina Kiss di San Juan (AS). Petinju Puerto Riko yang tinggal di Brooklyn (New York) itu kini mengemas rekor 33-1-1 (25 KO).

Ini kedua kalinya Serrano (28 tahun) mengalahkan Kiss yang berasal dari Hungaria. Pada April 2016, dia membutuhkan empat ronde (duel nongelar 8 ronde) untuk merengkuh kemenangan TKO. Sementara Kiss (13-5, 7 KO) menderita kekalahan kedua secara beruntun dan ketiga dalam empat partai terakhir.

Serrano yang meraih gelar juara dunia di lima divisi dan mempertahankan sabuk bulu yuniornya untuk kedua kalinya, mendominasi pertarungan. Di ronde kedua, pukulan kanan membuat Kiss tersungkur ke kanvas. Namun lawannya itu masih mampu berdiri dalam hitungan wasit.

Di ronde ketiga, Serrano terus mendaratkan pukulan. Walau Kiss tak pernah lagi jatuh, Serrano mendaratkan cukup banyak pukulan bersih untuk mengguncang sang lawan dan memaksa wasit Jose Rivera menyudahi pertarungan dengan sisa satu menit di ronde tersebut.