Hadapi Yoshihiro Kamegai, Miguel Cotto Incar Gelar Keenam Di Duel Terakhirnya

Hadapi Yoshihiro Kamegai, Miguel Cotto Incar Gelar Keenam Di Duel Terakhirnya

Berita Tinju: Sabtu (26/8) malam atau Minggu (27/8) pagi WIB, saat dunia fokus pada duel Mayweather-McGregor di Las Vegas, Miguel Cotto (40-5, 33 KO) akan kembali naik ring setelah 21 bulan di Stubhub Center, Carson, AS. Dia akan menghadapi – yang disebutnya duel terakhir dalam kariernya – petinju Jepang Yoshihiro Kamegai (27-3-2, 24 KO).

Yang menarik dalam duel ini adalah sabuk yang diperebutkan: gelar menengah super WBO yang lowong, yang dilepas Canelo Alvarez pada Mei lalu saat naik ke kelas menengah untuk Gennady Golovkin bulan depan. Jika Cotto memenangi gelar tersebut, itu jadi gelar yang berselisih 13 tahun dan dua kelas dengan gelar pertamanya sejak 2004 di kelas 140 pound.

Petinju Puerto Riko berusia 36 tahun yang pernah menggengam sabuk juara di empat kelas berbeda itu dengan enggan membahas akhir kariernya yang sudah berjalan selama 16 tahun.

“Saya pikir 16 tahun itu sudah cukup, dan saya punya hal lain untuk dilakukan dalam hidup saya,” ujarnya. “Anda tahu, saya ingin lebih baik menjaga keluarga saya, dan itulah alasan terbesar dan satu-satunya saya untuk berhenti bertinju dan pensiun setelah 31 Desember.

Dia pun menegaskan tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. “Keputusan sudah dibuat. Saya akan meninggalkan tinju pada 31 Desember, tak peduli apa yang terjadi dengan karier saya.”

Cotto meninggalkan Roc Nation Sports milik Jay-Z ketika usaha negosiasi pertama untuk mewujudkan duel melawan Kamegai gagal pada Mei lalu akibat tak sepakat soal uang. Cotto, yang kali terakhir bertarung dalam kekalahan angka mutlak dari Alvarez pada November 2015, kemudian memutuskan menutup karier bersama Golden Boy, yang juga mempromotori Alvaraez dan Kamegai

Salah satu kesepakatan yang dihasilkan antara Cotto dan Golden Boy berpusat pada upaya perusahaan tersebut untuk membangkitkan olahraga tinju di Puerto Rico, yang kesulitan menghasilkan talenta papan atas dalam beberapa tahun terakhir.

“Miguel Cotto bukan hanya legenda di atas ring, tapi juga di seluruh pelosok kepulauan Puerto Riko, yang memiliki salah satu tradisi tinju teraya di dunia,” tandas pendiri GBP dan CEO Oscar De La Hoya.

Kamegai, 34 tahun, akan bertarung di AS untuk kesembilan kali dalam akriernya tapi hanya memenangi tiga dari delapan pertarungan sebelumnya, dengan ketiga kekalahan dan dua hasil seri didapatnya di Amerika. Toh meskipun rekornya tak begitu bagus, dia senang bertarung di AS.

Bertarung di AS turut mengubah gayanya, katanya, dari tipikal petinju teknis dan fokus pada pertahanan menjadi petarung yang lebih agresif. “Saat saya bertarung di AS, saya jauh lebih termotivasi. Terutama dengan reaksi fans dan penonton,” tandas Kamegai. “Amerika mungkin tempat terbaik untuk bertarung.”

Dengan Kamegai diharapkan bertarung lebih agresif, dan Cotto selalu meladeni adu pukulan, terutama di bawah pelatih berorientasi menyerang Freddie Roach, duel ini diharapkan akan seru dan sengit sepanjang pertarungan.

“Kamegai sangat agresif dan saya suka itu,” kata Roach. “Saya rasa pertarungan akan berlangsung seru karena dia senang maju dan mengincar KO. Orang yang mengincar KO biasanya akan di-KO. Jadi kami pun berlatih untuk membalas balik serangannya, dan latihannya berjalan dengan baik.”

Pastinya Cotto tidak asing menjalani pertarungan yang sengit. Itu bisa dilihat dari deretan lawan level Hall of Fame yang pernah dihadapinya. Sebut saja, selain Alvarez, Floyd Mayweather, Shane Mosley, Manny Pacquiao, Sergio Martinez, Antonio Margarito, dan Austin Trout.

Cotto tak pernah takut menghadapi siapapun di atas ring. Dia memang tak selalu menang, namun dia tak pernah lari menghindar dan tak pernah gagal menghibur fans. Dia salah satu petinju terpopuler yang pernah bertarung di Madison Square Garden. Benar-benar seorang petarung sejati.

Itu nampak betul dalam duel terkenalnya melawan Margarito pada 2008 ketika selama 11 ronde dia menghadapi lawan yang diduga bertarung dengan sarung tinju yang disi dengan plester paris. Cotto babak-belur malam itu, tapi tiga tahun kemudian dia membalas dendam dengan menghentikan Margarito dalam duel ulang.