Bersimbah Darah, Juara Terbang Yunior IBF Melindo Menang ‘Split Decision’ Atas Budler

Bersimbah Darah, Juara Terbang Yunior IBF Melindo Menang ‘Split Decision’ Atas Budler

Berita Tinju: Dalam salah satu pertarungan paling sengit dan bersimbah darah yang pernah digelar di Waterfront Hotel & Casino, Cebu, Filipina, petinju tuan rumah Milan Melindo meraih kemenangan ‘split decision’ atas penantang dari Afrika Selatan Hekkie Budler, untuk mempertahankan gelar terbang yunior IBF miliknya, Sabtu (16/9) malam.

Fans memang mengharapkan pertarungan berjalan seru, namun ternyata mereka mendapatkan lebih dari itu. Sejak bel ronde pertama berbunyi, duel adu pukulan dilakukan secara non-stop, tanpa ‘clinch’ sama sekali. Jual-beli pukulan itu terjadi dalam jarak dekat maupun sedang.

Melindo lebih unggul di ronde-ronde awal, meski Budler yang punya gerak cepat selalu berherak dengan baik, melontarkan pukulan kombinasi dan menunjukkan teknik tinju mengagumkan terhadap sang jawara yang memiliki tubuh lebih besar dan berat, serta memiliki pukulan sangat keras.

Di ronde empat, Budler mendaratkan lebih banyak pukulan, meski tak begitu mengguncang Melindo. Petinju Filipina itu sendiri melepaskan pukulan lebih sedikit, namun dengan kekuatan merusak yang lebih besar. Kedua petarung menunjukkan stamina yang tak habis-habisnya.

Hekkie sempat menerima pukulan tak sengaja di bagian vitalnya, membuatnya terkapar ke kanvas, meringis kesakitan. Wasit Wes Melton pun memberi waktu pemulihan wajib selama lima menit kepada petinju Afsel tersebut. Budler pun memanfaatkan waktu itu sebelum melanjutkan pertarungan.

Melindo juga mengalami ketidakberuntungan setelah kedua matanya mendapat luka sobek parah akibat bentran kepala yang tidak disengaja. Akibatnya, Melton sempat harus beberapa kali berkonsultasi dengan dokter sisi ring untuk melihat luka Melindo. Meski begitu pertarungan tetap dilanjutkan sampai akhir.

Seyogyanya, pertarungan tersebut dihentikan di ronde ke-10 ketika Melindo mendapatkan luka benturan kepala kedua. Mata kanannya pun mengucurkan darah. Padahal mata kirinya sudah juga mengeluarkan darah akibat benturan kepala di ronde enam. Namun pertarungan tetap saja dilanjutkan.

Pertarungan keras itu berlanjut dengan lebih intens manakala sang penantang jatuh ke kanvas di ronde ke-12, meski Budler seketika berdiri seperti tidak ada apa-apa. Pasca hitungan wasit, Budler langsung menyerang Melindo dan kedua petinju pun beradu pukulan dengan sengit di menit-menit akhir.

Namun, kebalikannya, hakim Takeo Harada dari Jepang memutuskan Melindo jauh lebih unggul dan memberinya skor 117-110. Hal serupa diputuskan hakim veteran Glenn Trowbridge dari Las Vegas yang memberi kemenangan 115-112 kepada Melindo.

Karuan saja, kubu Budler tidak puas dengan keputusan dua hakim yang lebih condong kepada petinju tuan rumah. “Ini benar-benar perampokan,” ungkap promotor Budler, Rodney Berman. “Kami tidak akan tinggal diam. Ada begitu banyak hal yang salah dari keputusan ini.

Sementara itu Melindo menyebut kubu Budler sepertinya sengaja berencana menanduk dirinya. “Dia pikir saya tak bisa melihat. Tapi saya terus memukul seperti yang pelatih Edito katakan. Darah tak masalah,” tandasnya. “Sorakan penonton memberikan energi ekstra kepada saya. Saya berterima kasih atas dukungan mereka.”